Sejarah
Marga Silaban merupakan salah satu marga tua dalam suku Batak yang memiliki akar sejarah panjang dan kaya akan nilai budaya. Asal-usulnya bermula dari garis keturunan Toga Sihombing, yang dikenal dengan sebutan Borsak, yang berdiam di wilayah Tipang.
Toga Sihombing memiliki empat orang keturunan, yaitu Borsak Jungjungan, Borsak Sirumonggur, Borsak Mangatasi, dan Borsak Bimbinan. Dari keempat garis keturunan tersebut, Borsak Jungjungan menjadi leluhur utama dari marga Silaban.
Dalam perjalanan generasi berikutnya, muncul sosok Ompu Raja Diomaoma, seorang pedagang yang dikenal luas karena kejujuran dan kemampuannya memberikan keuntungan bagi rekan-rekan bisnisnya. Karena sifatnya tersebut, ia mendapat gelar “Silabaan”, yang kemudian melekat dan berkembang menjadi nama marga Silaban yang dikenal hingga saat ini.
Seiring berjalannya waktu, keturunan Borsak Jungjungan Silaban berkembang dan tersebar ke berbagai daerah di Nusantara, bahkan hingga ke mancanegara. Meskipun tersebar secara geografis, nilai-nilai persaudaraan, adat, dan budaya tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagai bentuk upaya mempererat persatuan dan memperkuat identitas bersama, dibentuklah organisasi Pomparan Borsak Jungjungan Silaban Indonesia–Portibi (PBJSIP). Organisasi ini secara resmi dideklarasikan pada tanggal 10 Oktober 2010 di Lintong Nihuta, Sumatera Utara, sebagai wadah pemersatu seluruh pomparan Silaban di tingkat nasional dan global.
Hingga saat ini, PBJSIP terus berkembang sebagai simbol kebersamaan, dengan semangat “Silaban Marsada”, menjaga warisan leluhur sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman menuju masa depan yang lebih baik.